Bagaimana Tidurmu Semalam?
Seorang lelaki bertanya kepada al-A’masy, ”Bagaimana tidurmu tadi malam?”
Mendengar pertanyaan tersebut, al-A’masy segera masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia keluar dengan membawa tikar dan sebuah bantal. Ia segera menghamparkan tikarnya dan telentang di atasnya seraya berkata, “Begini.”
Apakah Engkau Sering Menangis Ketika Masih Kecil.. ?
Seorang anak wanita kecil sedang menangis dengan suara keras dan tidak berhenti-henti dalam waktu lama, maka datanglah mendekati anak tersebut seorang nenek-nenek yang sudah berwajah keriput dan berkata kepadanya untuk mendiamkannya dengan penuh rasa kasih sayang :
‘cucuku yang manis… jangan banyak menangis.. karena banyak menangis akan menjadikan wajahmu tidak cantik dan manis lagi, dan kalau sudah besar nanti menjadi tidak sedap dipandang…
Anak kecil tersebut pun menyahutnya sambil memandangi nenek-nenek tersebut : lalu apakah nenek ketika masih kecil dulu sering menangis… ??
Tidak Ada yang Gratis
Seorang lelaki yang sedang mengenakan jubah yang sangat indah, bertanya kepada Mazbad, “Apakah Anda senang jika Anda memiliki jubah ini?”
Mazbad menjawab, “Tentu saja, walupun saya harus dicambuk dua puluh kali cambukan.”
Sang lelaki bertanya lagi, “Mengapa Anda berkata seperti itu?”
“Karena saya meyakini bahwa kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma,” jawab Mazbad.
(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)
Tertawa Saat Berta’ziyah
Diantara orang yang di kenal dengan kekonyolannya di kalangan orang Arab adalah Abu Abdullah al-Jashshash. Diantara cerita lucu tentangnya adalah apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Ahmad at-Tirmidzi, ia pernah bercerita :
“Suatu hari, aku pernah bertamu ke rumah az-Zuzaj (nama kunyah beliau adalah Abu Ishaq) untuk berta’ziyah (menghibur) atas musibah yang baru saja menimpanya, yaitu kematian ibunda tercintanya. Hadir bersamaku saat itu para pejabat, tokoh masyarakat dan para tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya.
Tiba-tiba masuklah Ibnu al-Jashshash sambil tertawa gembira dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), sungguh Allah telah membahagiakanku wahai Abu Ishaq.”
Mendengar ucapan Ibnu al-Jashshash tersebut, az-Zujaj pun tersentak kaget. Begitu pula tamu-tamu yang hadir.
Seseorang yang hadir pun bertanya kepadanya, “Wahai Ibnu al-Jashshash! Bagaimana mungkin musibah ini bisa membuatmu bahagia? Padahal kami semua yang hadir di sini merasa sangat sedih atas kejadian ini.”
Ibnu al-Jashshash pun menjawab, “Wahai saudaraku! Berita yang sampai kepadaku sebelum ini menyebutkan bahwa yang meninggal dunia adalah az-Zujaj. Maka ketika aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa yang meninggal dunia adalah ibunya, aku pun menjadi gembira.”
Setelah mengetahui sebabnya, orang-orang yang hadir pun akhirnya ikut tertawa.
(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)
Makan Bawang
Seseorang berkata kepada temannya : Dokter menasihati saya agar banyak-banyak makan bawang, agar berat badanku cepat berkurang…
Temannya pun bertanya kepadanya : lalu apakah benar sekarang berat badanmu berkurang..?
Ia menjawab : tidak.. !! bahkan teman saya yang semakin berkurang
Surat Kilat
al-Madaini pernah berkata,“Pernah ada seorang lelaki dari kalangan orang terhormat mendatangi kota Baghdad.
Setelah beberapa waktu tinggal di sana, ia pun berkeinginan untuk menulis sepucuk surat kepada ayahnya mengabarkan tentang keadaannya di sana.
Setelah menulis surat tersebut, ia pun mencari kurir yang dapat mengantarkan suratnya itu kepada sang ayah. Akan tetapi, meskipun sudah mencari beberapa waktu lamanya, ia belum juga menemukan seorangpun yang mengetahui alamat tempat tinggal ayahnya.
Akhirnya ia sendiri pergi ke rumah ayahnya dan berkata kepadanya, “Wahai Ayah! Saya tidak suka apabila kabar tentang saya datang terlambat kepada Ayah. Sebenarnya saya sudah menulis surat untuk Ayah, tapi saya tidak menemukan seorangpun yang mengetahui alamat tempat tinggal Ayah. Maka akhirnya saya sendiri yang mendatangi Ayah untuk menyampaikan surat ini.”
Kemudian ia pun memberikan suratnya tersebut kepada ayahnya.”
(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)
Saya Ceraikan Istriku Karena Allah
al-Ashmu’i pernah bercerita,
“Pernah suatu hari, sekelompok orang dari suku Quraisy bepergian meninggalkan daerah kediaman mereka. Ketika itu, ada seorang dari suku Ghifar ikut bersama bepergian bersama mereka.
Ketika mereka sedang berada di tengah padang pasir yang sangat luas, tiba-tiba bertiuplah angin topan yang kering dan panas dengan kencangnya. Hampir saja mereka semua mati akibat angin topan itu. Namun akhirnya mereka semua selamat dari kematian dengan izin Allah.
Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah, tiap orang dari mereka membebaskan satu orang budak yang mereka miliki. Tak mau ketinggalan, orang dari suku Ghifar yang tidak memiliki budak itu pun berkata, “Ya Allah, aku tidak memiliki budak untuk aku bebaskan, akan tetapi aku akan menceraikan istriku karena mengharap balasan dari-Mu sebagai ungkapan syukurku kepada-Mu.”
(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)
Sebab Tertawa
Dua anak laki-laki kembar keluar dari kamar mandi sambil tertawa-tawa kepada ibunya, lalu ibunya pun bertanya kepada mereka : apa yang membuat kalian tertawa kepada mama, ada apa…?!
Salah satu dari anak yang kembar tersebut menjawab : kami tertawa karena Mama telah memandikan aku dua kali, sedang saudara kembarku belum dimandikan…
Shalat A’rabi
Seorang A’rabi (orang Arab yang tinggal di pedalaman) baru saja tiba di kota. Ia bergegas masuk ke dalam mesjid untuk melaksanakan shalat. Ia pun berdiri memulai shalatnya. Ia berdiri cukup lama dalam shalatnya tersebut. Orang-orang yang ada di sekitarnya dan melihat shalat sang A’rabi yang terlihat sangat khusyuk mulai memuji-muji shalatnya dan menyifatinya dengan sifat-sifat yang baik.
Sang A’rabi yang mendengar pujian orang-orang tersebut pun tiba-tiba memutuskan shalatnya dan berkata kepada mereka, “Bukan itu saja, saya juga sedang berpuasa pada hari ini, lho.”
(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)
Menemukan Harta Terpendam
Ketika Juha sedang memaku dinding rumahnya tiba-tiba dindingnya cebol dan berlobang, maka dari lobang itupun ia melihat sebuah kandang ternak (milik tetangganya) yang penuh dengan kambing dan ternak lainnya.
Juha pun sangat gembira, dengan terburu-buru ia mengabari istrinya dan berkata : ‘Sungguh saya telah menemukan harta terpendam, sebuah kandang ternak yang penuh dengan kambing dan hewan-hewan lainnya…!!’
A’rabi Bangun Malam
Sekolompok orang sedang duduk-duduk berbincang dan saling mengingatkan tentang keutamaan bangun malam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi dan langsung ikut bergabung duduk bersama mereka.
Mereka pun bertanya kepada sang A’rabi, “Apakah Anda terbiasa bangun malam?”
Sang A’rabi menjawab, “Demi Allah! Tentu saja.”
“Kemudian apa yang Anda lakukan?” tanya mereka lagi.
“Saya biasa buang air kecil, kemudian saya kembali tidur,” jawab A’rabi polos.
(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)
Makna al-Ghisliin
Abu Manshur ats-Tsa’alibi pernah bercerita, “Pernah suatu saat, seorang lelaki mendatangi Sifawaih untuk bertanya kepadanya tentang makna dari kata al-Ghisliin yang terdapat dalam al-Qur’an Surat al-Haqqah ayat 36.
(al-Ghisliin adalah salah satu jenis makanan ahli neraka, pent.)
Sifawaih pun menjawab, “Engkau telah bertanya kepada orang yang tepat. Aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama kepada salah seorang ahli fikih dari kalangan ulama negeri Hijaz, ia menjawab bahwa ia sama sekali tidak memilikinya sedikitpun.”
(Qashashul Arab, karya Ibrahim Syamsuddin)
Apa yang Terjadi
Seorang pasien datang menemui Dokter, lalu Dokter itu pun bertanya kepadanya : apa masalah yang anda rasakan..??
Pasien itu pun menjawab : ketika saya menikah, saya dan istriku telah sepakat dan saling setuju untuk selalu bersama dalam segala hal.. ketika saya tertawa, ia juga tertawa, saya senang ia pun juga senang, dan ketika saya sedih dan menangis, ia pun juga ikut sedih dan menangis bersama.. dan seterusnya.
Dokter bertanya lagi : lalu sekarang apa yang terjadi..?
Pasien itu menjawab : sekarang istriku sedang melahirkan anak…
Kuburan Penyayang Binatang
Pernah suatu saat, Sifawaih sedang mengendarai seekor keledai di sebuah pekuburan. Saat tengah asyik melintas perkuburan tersebut, tiba-tiba keledai yang ia tunggangi berhenti berjalan dan mulai mengendus-endus sebuah kuburan.
Sifawaih pun berkata, “Pastilah orang yang di kubur di dalamnya semasa hidupnya adalah seorang penyayang binatang atau seorang dokter hewan.”
(Qashashul ‘Arab, karya Ibrahim Syamsuddin)
Dari: www.alsofwah.or.id