Kerajaan Semut Di Terowongan-terowongan Palestina

Syauqiyah Aruq Mansour

Al-Quds Arabi London

Terowongan bawah tanah atau koridor rahasia yang menghubungkan antara kota-kota dengan dunia pada saat perang dan blockade berlangsung merupakan pembulu darah yang dimiliki oleh warga diblokade yang menyambungkan dengan kehidupan. Sejarah mengabadikan tekad bangsa-bangsa yang mengadapi tantangan kegelapan, rahasia, bawah tanah, ketakutan dan kelelahan, arogansi musuh. Kejutan yang terjadi adalah bangsa yang diblokade diisolasi memperoleh kemenangan berkat terowongan dimana manusia secara naluri dibekali teknik bangunan. Mereka menyimpulkan bahwa jalan pintas antara dua titik adalah “garis lurus” namun jalan pintas untuk menantang lawan adalah bertahan hidup meski musuh meletakkan Anda di arsip kematian.

Terowongan dan koridor rahasia yang digali warga Palestina di bawah kota Rafah perbatasan untuk menyelundupkan barang-barang dan senjata antara Jalur Gaza dan Mesir sudah menjadi fenomena sejarah dan kemanusiaan. Itu terjadi di era moderan dan peradaban inklusif, perdagangan bebas, perang di berbagai sector, seakan terowongan bukan lagi bagian dari senjata dan senjata untuk menghadapi blockade. Namun Israel ingin membuktikan kepada dunia dan sejarah bahwa dirinya masih murni berlogika bahwa blockade memberikan efek memaksa suatu bangsa bertekuk-lutut dan tidak ada gunanya melawan.

Dunia melihat blockade terhadap Jalur Gaza dan bersikap seperti tiga filasafat monyet “saya tidak melihat, tidak mendengar dan tidak bicara”. Negara-negara barat yang berbangga sebagai oase demokrasi dan HAM berusaha mempromosikan slogan-slogan kosong. Di sini tidak usah mencela dunia Arab yang sudah pasti memiliki hubungan rahasia dengan Amerika.

Di antara kita belum pernah menyaksikan barang-barang, binatang seperti sapi dan kambing masuk melalui terowongan Palestina. Sebuah kerja yang melelahkan dan berat. Namun inilah jalan satu-satunya menghadapi penjajah yang mengisolasi mereka dari jalan udara, darat dan laut. Apalagi ketika tawar menawar dengan Mesir di perbatasan dan perlintasan menjadi bagian dari sarana siksaan massal untuk menekuk lutut dan mencuci tangan dari perlawanan. Yang menggelikan dan sekaligus menyedihkan, gerbang perlintasan perbatsan Mesir berubah menjadi bahan berita penghibur. Seakan membuka perlintasan memerlukan sertifikat yang disebarkan lewat media gambar dan tulisan. Di abad ini tidak ada yang lebih buruk dari blockade dan isolasi. Di tahun-tahun mendatang, sejarah akan mencatat bahwa blockade Israel terhadap Jalur Gaza adalah blockade terakhir dalam sejarah peradaban manusia dan pelaparan terakhir yang dialami manusia yang ingin mempertahankan hidup. Memburu terowongan dengan ledakan, pentupan dan pemeriksaan masih digelar oleh pejabat barat yang kerjasama dengan Israel dan Mesir dengan menutup telinga dan mata pasien dan orang-orang yang lapar.

Film “Kerajaan Semut” mengisahkan terowongan-terowongan Palestina sebagaimana dikisahkan oleh Shauqi El-Magiri (Tunis) sebagai surga di bawah tanah sebab di atas bumi tidak lagi bisa bertahan. Penyiksaan, pembunuhan, penjara, korban meninggal, penghancuran, pengeboman, kematian, yang tidak diketahui darimana saja bisa datang. Sebab Palestina tergantung dan terikat dengan semua arah, tubuh mereka adalah peta untuk menentukan kemana mereka berjalan.

Kerajaan Semut mengisahkan detail keseharian terowongan. Untuk pertama kalinya ada film Arab dengan tema seperti ini yang selama ini tema Palestina tidak mendapatkan perhatian selain hanya cuplikan di sana sini. Film Palestina menjadi penting bagi isu, bangsa, pembantaian yang belum mampu berada di layar lebar internasional dan hanya berada di memoar, gambar dan kamp pengungsi.

Produser Tunis Shauqi El-Magiri pernah memproduksi sinetron “Agresi” yang mengingatkan agresi Israel ke kota-kota Palestina, terutama kota Jenin dengan pahlawannya Asy-Syahid Abu Jundul. Sinetron ini menggondol IMA Award tahun 2008 yang diberikan oleh Akademi Seni Televisi Internasional di Amerika. Ini adalah sinetron Arab pertama yang mendapatkan nobel sejenis.

Barangkali “Kerajaan Semut” memberikan sorotan baik tentang penderitaan Jalur Gaza. Minimal ini sebuah penyikapan media terhadap penderitaan Jalur Gaza bukan hanya komoditas media yang layak dijadikan tontotan. (bn-bsyr)


Yang Mana Masjid Al-Aqsha?

Kalau anda seorang muslim, pasti anda sering mendengar nama Masjid Al Aqsa, ya Masjid Al Aqsa, kita pasti sudah melihat gambarnya di buku buku waktu sekolah dulu dan di kalender [Almanak, tanggalan], Tetapi….Aneh…saya baru tau info ini sekarang,

Ternyata di beberapa buku / kalender yang pernah kita lihat ternyata gambarnya ada yang salah….


Ternyata selama ini ada usaha “PEMBODOHAN”, dan ternyata banyak orang Muslim dan Non-Muslim, dengan maksud yang berbeda beda telah membuat kesalahan dengan mencetak dan menyebarluaskan gambar gambar tersebut.

Akhirnya banyak Anak anak [Termasuk Saya], yang sudah dari sekolah dulu merasa tertipu dengan gambar tersebut, dan tidak bisa membedakan kebenaran kedua masjid tersebut.

Mudah mudahan dari gambar ini bisa menjelaskan semuanya :

Masjid ini yang selama ini kita kira adalah Masjid Al Aqsa

Ini gambar Masjid Al Aqsa yang sebenarnya :

Letak antara Al Aqsa dan Al Sakhra :
aqsa between ashakra
Tujuan utama media yahudi [Eksploitasi Media], menyamarkan Masjid Sakhra sebagai Masjid Aqsa agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsa dan membangun Haikal Sulaiman “Solomon Temple”, pada bekas reruntuhan Masjid Al Aqsa.

Karena umat Yahudi meyakini, bahwa dalam kitab Taurat “Perjanjian Lama”, bahwa di akhir jaman nanti akan ada seorang Dewa penolong umat Yahudi yang disebut “MESIAH”, apabila umat Yahudi mengadakan Ritual agama di Kuil Sulaiman dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah [Al Baqarah].

Source :

Milis sabili@yahoogorups, Google

Tersenyum Saja...Jangan Ketawa

Menelan Seekor Kuda

Seorang lelaki yang lemah akalnya bersikeras dihadapan seorang dokter menyatakan bahwa ia telah memakan seekor kuda. Sang Dokter pun berusaha meyakinkan lelaki tersebut bahwa hal itu adalah mustahil. Akan tetapi sang lelaki tetap pada pendiriannya.

Setelah merasa putus asa untuk meyakinkan sang lelaki itu, sang dokter pun berkata kepadanya, “Baiklah, kalau begitu Anda akan kami operasi untuk mengeluarkan kuda yang telah Anda telan dari dalam perut Anda.”

Kemudian, sang dokter membius sang lelaki dan segera meminta asistennya untuk mendatangkan seekor kuda ke dalam ruang operasi.

Ketika sang lelaki itu sadar, sang dokter berkata kepadanya, “Alhamdulillah kami telah berhasil mengeluarkan kuda ini dari dalam perutmu.”

Melihat kuda coklat di hadapannya, sang lelaki pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Bukan kuda ini yang aku makan. Kuda yang telah kumakan warnanya adalah putih bukan coklat!”

 

Wali yang Rendah Hati

Pernah suatu ketika, Juha mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah seorang wali Allah yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia mengaku bila ia memanggil sebuah batu atau sebuah pohon maka batu atau pohon tersebut akan berjalan memenuhi panggilannya dan segera mendekat kepadanya.

Salah seorang yang meragukan pengakuan Juha berkata kepadanya, “Wahai Juha! Jika yang Anda ucapkan ini adalah benar, coba Anda panggil pohon yang ada di hadapanku ini! Aku ingin melihat kebenaran ucapanmu dengan mata kepalaku sendiri.

Juha pun mencoba memanggil pohon tersebut seraya berkata, “Wahai pohon yang penuh barokah! Kemarilah! Mendekatlah kepadaku!”

Juha mengulangi panggilannya beberapa kali. Akan tetapi, pohon yang dipanggilnya tetap diam di tempatnya tidak bergeming sedikit pun. Akhirnya, Juha berjalan mendekati pohon itu.

Lelaki yang memintanya untuk memanggil pohon itu pun berkata, “Bukankah Anda mengatakan bahwa pohon itu yang akan berjalan memenuhi panggilan Anda?”

Juha menjawab, “Seorang wali tentu tidak boleh sombong. Apabila pohon yang dipanggilnya tidak mau berjalan mendekatinya, maka ia yang akan berjalan mendekati pohon itu.”

 

Turut Bersedih

Seorang guru Geografi bertanya kepada salah seorang siswanya yang sedang tertidur dipojok kelas :’Kenapa ‘Laut Hitam’ diberi nama dengan nama tersebut ?..’
Siswa tersebut pun menjawab : Karena ia turut bersedih dengan ‘Laut Mati’…

 

Mayat Hidup

Seorang lelaki yang sedang berada di tengah keramaian pasar tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Orang-orang yang berada di sekitarnya segera membawanya ke sebuah rumah. Tak berapa lama kemudian, sebagian orang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya ia telah meninggal dunia.”

Mereka pun memandikan, mengkafani, menyolatkan dan memasukkannya ke dalam keranda. Setelah itu, sebagian diantara mereka segera mengangkat keranda itu di atas pundak-pundak mereka dan mereka pun berjalan menuju ke tempat pemakaman umum. Orang-orang yang ikut mengantarkan jenazahnya jumlahnya cukup banyak.

Ketika mereka berada di tengah perjalanan, sang lelaki tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Ia langsung duduk dan berkata dengan penuh rasa kaget dan kebingungan, “Akan di bawa ke mana saya? Turunkan saya! Saya masih hidup. Saya belum mati.”

Juha yang mendengar ucapan sang lelaki berkata, “Sungguh sangat mengherankan apa yang telah terjadi padamu. Akan tetapi, apakah aku akan membenarkan ucapanmu dan mendustakan orang-orang sebanyak ini?”

 

Saat Senang dan Sedih

Seseorang bertanya kepada temannya : apa yang kamu lakukan ketika kamu merasa senang?...
Temannya menjawab : ya tentu tertawa ha..ha..ha..
Ia bertanya lagi, lalu bagaimana jika kamu sedang sedih, apa yang kamu lakukan?...
Temannya pun menjawab : ya sebaliknya, ah…ah…ah..

 

Mengajarinya Berenang

Suatu hari, Abu ath-Thayyib ath-Thabari menyerahkan sepasang sepatunya yang rusak kepada seorang tukang sepatu untuk diperbaiki. Sang tukang sepatu tersebut tinggal di dekat sungai yang biasa dilewati Abu ath-Thayyib setiap harinya. Sang tukang sepatu biasa memperbaiki sepatu langganannya di pinggir sungai. Abu ath-Thayyib meminta sang tukang sepatu untuk dapat menyelesaikan perbaikan sepatunya secepatnya. Sang tukang sepatu pun menyanggupinya.

Namun, setiap kali Abu ath-Thayyib melewati kediaman sang tukang sepatu untuk mengambil sepatunya, ia melihat sang tukang sepatu sedang mencuci sepatunya sambil mencelupkannya ke dalam sungai dan berkata, “Tunggu sebentar lagi wahai Abu ath-Thayyib … Sebentar lagi! Sudah hampir selesai, kok…”

Ketika kejadian ini telah terulang beberapa kali, Abu ath-Thayyib pun berkata kepadanya dengan nada kesal, “Sesungguhnya aku menyerahkan sepatuku kepadamu untuk engkau perbaiki, bukan untuk kau ajari berenang.”

Kumpulan Cerita Mengundang Senyum

Bagaimana Tidurmu Semalam?

Seorang lelaki bertanya kepada al-A’masy, ”Bagaimana tidurmu tadi malam?”
Mendengar pertanyaan tersebut, al-A’masy segera masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia keluar dengan membawa tikar dan sebuah bantal. Ia segera menghamparkan tikarnya dan telentang di atasnya seraya berkata, “Begini.”

  

Apakah Engkau Sering Menangis Ketika Masih Kecil.. ?

Seorang anak wanita kecil sedang menangis dengan suara keras dan tidak berhenti-henti dalam waktu lama, maka datanglah mendekati anak tersebut seorang nenek-nenek yang sudah berwajah keriput dan berkata kepadanya untuk mendiamkannya dengan penuh rasa kasih sayang :
‘cucuku yang manis… jangan banyak menangis.. karena banyak menangis akan menjadikan wajahmu tidak cantik dan manis lagi, dan kalau sudah besar nanti menjadi tidak sedap dipandang…
Anak kecil tersebut pun menyahutnya sambil memandangi nenek-nenek tersebut : lalu apakah nenek ketika masih kecil dulu sering menangis… ??

 

Tidak Ada yang Gratis

Seorang lelaki yang sedang mengenakan jubah yang sangat indah, bertanya kepada Mazbad, “Apakah Anda senang jika Anda memiliki jubah ini?”
Mazbad menjawab, “Tentu saja, walupun saya harus dicambuk dua puluh kali cambukan.”
Sang lelaki bertanya lagi, “Mengapa Anda berkata seperti itu?”
“Karena saya meyakini bahwa kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma,” jawab Mazbad.
(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)

 

Tertawa Saat Berta’ziyah

Diantara orang yang di kenal dengan kekonyolannya di kalangan orang Arab adalah Abu Abdullah al-Jashshash. Diantara cerita lucu tentangnya adalah apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Ahmad at-Tirmidzi, ia pernah bercerita :

“Suatu hari, aku pernah bertamu ke rumah az-Zuzaj (nama kunyah beliau adalah Abu Ishaq) untuk berta’ziyah (menghibur) atas musibah yang baru saja menimpanya, yaitu kematian ibunda tercintanya. Hadir bersamaku saat itu para pejabat, tokoh masyarakat dan para tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya.

Tiba-tiba masuklah Ibnu al-Jashshash sambil tertawa gembira dan berkata, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), sungguh Allah telah membahagiakanku wahai Abu Ishaq.”

Mendengar ucapan Ibnu al-Jashshash tersebut, az-Zujaj pun tersentak kaget. Begitu pula tamu-tamu yang hadir.

Seseorang yang hadir pun bertanya kepadanya, “Wahai Ibnu al-Jashshash! Bagaimana mungkin musibah ini bisa membuatmu bahagia? Padahal kami semua yang hadir di sini merasa sangat sedih atas kejadian ini.”

Ibnu al-Jashshash pun menjawab, “Wahai saudaraku! Berita yang sampai kepadaku sebelum ini menyebutkan bahwa yang meninggal dunia adalah az-Zujaj. Maka ketika aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa yang meninggal dunia adalah ibunya, aku pun menjadi gembira.”

Setelah mengetahui sebabnya, orang-orang yang hadir pun akhirnya ikut tertawa.

(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)

 

Makan Bawang

Seseorang berkata kepada temannya : Dokter menasihati saya agar banyak-banyak makan bawang, agar berat badanku cepat berkurang…
Temannya pun bertanya kepadanya : lalu apakah benar sekarang berat badanmu berkurang..?
Ia menjawab : tidak.. !! bahkan teman saya yang semakin berkurang

 

Surat Kilat

al-Madaini pernah berkata,“Pernah ada seorang lelaki dari kalangan orang terhormat mendatangi kota Baghdad.

Setelah beberapa waktu tinggal di sana, ia pun berkeinginan untuk menulis sepucuk surat kepada ayahnya mengabarkan tentang keadaannya di sana.

Setelah menulis surat tersebut, ia pun mencari kurir yang dapat mengantarkan suratnya itu kepada sang ayah. Akan tetapi, meskipun sudah mencari beberapa waktu lamanya, ia belum juga menemukan seorangpun yang mengetahui alamat tempat tinggal ayahnya.

Akhirnya ia sendiri pergi ke rumah ayahnya dan berkata kepadanya, “Wahai Ayah! Saya tidak suka apabila kabar tentang saya datang terlambat kepada Ayah. Sebenarnya saya sudah menulis surat untuk Ayah, tapi saya tidak menemukan seorangpun yang mengetahui alamat tempat tinggal Ayah. Maka akhirnya saya sendiri yang mendatangi Ayah untuk menyampaikan surat ini.”

Kemudian ia pun memberikan suratnya tersebut kepada ayahnya.”

(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)

 

Saya Ceraikan Istriku Karena Allah

al-Ashmu’i pernah bercerita,
“Pernah suatu hari, sekelompok orang dari suku Quraisy bepergian meninggalkan daerah kediaman mereka. Ketika itu, ada seorang dari suku Ghifar ikut bersama bepergian bersama mereka.
Ketika mereka sedang berada di tengah padang pasir yang sangat luas, tiba-tiba bertiuplah angin topan yang kering dan panas dengan kencangnya. Hampir saja mereka semua mati akibat angin topan itu. Namun akhirnya mereka semua selamat dari kematian dengan izin Allah.
Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah, tiap orang dari mereka membebaskan satu orang budak yang mereka miliki. Tak mau ketinggalan, orang dari suku Ghifar yang tidak memiliki budak itu pun berkata, “Ya Allah, aku tidak memiliki budak untuk aku bebaskan, akan tetapi aku akan menceraikan istriku karena mengharap balasan dari-Mu sebagai ungkapan syukurku kepada-Mu.”
(Akhbarul Hamqaa wal Mughaffalin, karya Ibnul Jauzi)

 

Sebab Tertawa

Dua anak laki-laki kembar keluar dari kamar mandi sambil tertawa-tawa kepada ibunya, lalu ibunya pun bertanya kepada mereka : apa yang membuat kalian tertawa kepada mama, ada apa…?!

Salah satu dari anak yang kembar tersebut menjawab : kami tertawa karena Mama telah memandikan aku dua kali, sedang saudara kembarku belum dimandikan…

 

Shalat A’rabi

Seorang A’rabi (orang Arab yang tinggal di pedalaman) baru saja tiba di kota. Ia bergegas masuk ke dalam mesjid untuk melaksanakan shalat. Ia pun berdiri memulai shalatnya. Ia berdiri cukup lama dalam shalatnya tersebut. Orang-orang yang ada di sekitarnya dan melihat shalat sang A’rabi yang terlihat sangat khusyuk mulai memuji-muji shalatnya dan menyifatinya dengan sifat-sifat yang baik.
Sang A’rabi yang mendengar pujian orang-orang tersebut pun tiba-tiba memutuskan shalatnya dan berkata kepada mereka, “Bukan itu saja, saya juga sedang berpuasa pada hari ini, lho.”

(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)

 

Menemukan Harta Terpendam

Ketika Juha sedang memaku dinding rumahnya tiba-tiba dindingnya cebol dan berlobang, maka dari lobang itupun ia melihat sebuah kandang ternak (milik tetangganya) yang penuh dengan kambing dan ternak lainnya.

Juha pun sangat gembira, dengan terburu-buru ia mengabari istrinya dan berkata : ‘Sungguh saya telah menemukan harta terpendam, sebuah kandang ternak yang penuh dengan kambing dan hewan-hewan lainnya…!!’

 

A’rabi Bangun Malam

Sekolompok orang sedang duduk-duduk berbincang dan saling mengingatkan tentang keutamaan bangun malam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi dan langsung ikut bergabung duduk bersama mereka.
Mereka pun bertanya kepada sang A’rabi, “Apakah Anda terbiasa bangun malam?”
Sang A’rabi menjawab, “Demi Allah! Tentu saja.”
“Kemudian apa yang Anda lakukan?” tanya mereka lagi.
“Saya biasa buang air kecil, kemudian saya kembali tidur,” jawab A’rabi polos.
(Diterjemahkan dari kitab Qahashul Arab karya Ibrahim Syamsuddin)

 

Makna al-Ghisliin

Abu Manshur ats-Tsa’alibi pernah bercerita, “Pernah suatu saat, seorang lelaki mendatangi Sifawaih untuk bertanya kepadanya tentang makna dari kata al-Ghisliin yang terdapat dalam al-Qur’an Surat al-Haqqah ayat 36.
(al-Ghisliin adalah salah satu jenis makanan ahli neraka, pent.)
Sifawaih pun menjawab, “Engkau telah bertanya kepada orang yang tepat. Aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama kepada salah seorang ahli fikih dari kalangan ulama negeri Hijaz, ia menjawab bahwa ia sama sekali tidak memilikinya sedikitpun.”
(Qashashul Arab, karya Ibrahim Syamsuddin)

 

Apa yang Terjadi

Seorang pasien datang menemui Dokter, lalu Dokter itu pun bertanya kepadanya : apa masalah yang anda rasakan..??
Pasien itu pun menjawab : ketika saya menikah, saya dan istriku telah sepakat dan saling setuju untuk selalu bersama dalam segala hal.. ketika saya tertawa, ia juga tertawa, saya senang ia pun juga senang, dan ketika saya sedih dan menangis, ia pun juga ikut sedih dan menangis bersama.. dan seterusnya.
Dokter bertanya lagi : lalu sekarang apa yang terjadi..?
Pasien itu menjawab : sekarang istriku sedang melahirkan anak…

 

Kuburan Penyayang Binatang

Pernah suatu saat, Sifawaih sedang mengendarai seekor keledai di sebuah pekuburan. Saat tengah asyik melintas perkuburan tersebut, tiba-tiba keledai yang ia tunggangi berhenti berjalan dan mulai mengendus-endus sebuah kuburan.

Sifawaih pun berkata, “Pastilah orang yang di kubur di dalamnya semasa hidupnya adalah seorang penyayang binatang atau seorang dokter hewan.”

(Qashashul ‘Arab, karya Ibrahim Syamsuddin)

 

Dari: www.alsofwah.or.id

Tamu Terakhir…

Saudaraku tercinta! Tahukah engkau siapa tamu terakhir itu? Tahukah engkau apa gerangan maksud kedatangannya mengunjungi kita? Apa yang ia cari dari diri kita?

Ia bukan dating untuk mengejar harta kita, atau sekedar makan dan minum bersama kita. Ia juga bukan datang untuk meminta tolong dibayarkan utang atau menjasdi perantara kepada orang lain atau sekedar mempermudah birokrasi ang tidak dapat dia lakukan.

Ia datang untuk mengunjungi untuk kepentingan yang amat terbatas, untuk masalah tertentu saja. Urusan yang tidak dapat ditolakoleh diri kita, keluarga dan handai taulan; bahkan oleh semua orang di muka bumi ini. Urusan itu pasti terjadi dan pasti terlaksana.

Mungkin saja kita tinggal di istana-istana menjulang, di dalam benteng-benteng yang kokoh serta tempat perlindungan yang kuat. Masih ditambah lagi dengan para penjaga dan pengawal yang setia. Namun semua itu tidak akan mampu mencegah sang tamu menjumpai kita, bertemu lalu menyelesaikan urusannya dengan kita!

Untuk menemui kita, ia tidak perlu melalui pintu atau meminta izin terlebih dahulu atau mengadakan janji sebelumnya. Ia bias datang secara tiba-tiba kapan saja dan dalam kondisi apa pun. Saat kita sedang bekerja atau sedang beristirahat. Saat kita sakit maupun sehat. Saat kita sedang kaya atau sedang tidak punya. Saat kita sedang bepergian atau sedang bermukim.

Wahai saudaraku! Tamu itu tidak memiliki hati yang bisa terpengaruh oleh kata-kata dan tangisan kita, atau karena terikan dan rintihan kita. Ia sama sekali tidak berhak untuk berlambat-lambatsehingga perhitungan kita menjadi tertunda. Cobalah perhatikan urusan ini!

Ia menginginkan kita bukan selain kita. Menginginkan diri kita seluruhnya atau sebagian dari diri kita. Ia menginginkan kematian kita, ingin mencabut ruh kita. Tamu itu adalah Malaikat Maut!!!

 

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, Kemudian Hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajadah: 11)

 

Oleh: Ustadz Arifin, S.H.I